FESTIVAL MEDIA PERTUNJUKAN RAKYAT 2017, Palito Nyalo dari Kota Padang Sukses Juara Tingkat Nasional

FESTIVAL MEDIA PERTUNJUKAN RAKYAT 2017, Palito Nyalo dari Kota Padang Sukses Juara Tingkat Nasional

  • 27 11 2017
  • Admin
  • 29 Kali Dilihat
  • Kepala Dinas Kominfo Kota Padang Suardi menerima penghargaan dari Menkominfo RI diwakili Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Iqbal Alamsyah pada malam penutupan kegiatan SAIK 2017 di Hotel Novotel Palembang, Kamis (23/11) malam.

    PADANG.GO.ID -- Dilandasi perjuangan keras dan optimisme yang tinggi, akhirnya mampu mengantarkan Group "Palito Nyalo” menjadi Sang Juara di Pentas Nasional. Palito Nyalo dari Kota Padang yang mewakili Provinsi Sumatera Barat, keluar sebagai juara pertama pada 'Festival Media Pertunjukan Rakyat' Tingkat Nasional bahagian rangkaian kegiatan Sinergi Aksi Informasi dan Komunikasi (SAIK) tahun 2017 selama 21-24 November di Palembang, Sumatera Selatan.

    Festival Media Pertunjukan Rakyat ini diikuti 10 provinsi terbaik se-Indonesia yang dilangsungkan di Palembang Sport and Convention Center (PSCC) pada Rabu-Kamis (22-23/11/2017). Piagam Penghargaan dan Trophy bergengsi itu pun diterima Kepala Dinas Kominfo Kota Padang Suardi dari Menkominfo RI diwakili Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Iqbal Alamsyah pada malam penutupan kegiatan SAIK 2017 di Hotel Novotel Palembang, Kamis (23/11) malam.

    Sementara, terkait prestasi bagi Palito Nyalo ini diputuskan tiga orang Dewan Juri Nasional yakni Tulus Subarjono, Robbi Sudjadi dan Azwar Putra Bayu. Dimana untuk posisi kedua diraih Provinsi Jawa Tengah dan Sumatera Utara di tempat ketiga. Adapun 10 provinsi terbaik se-Indonesia yang bersaing dalam ajang ini antara lain Sumatera Selatan (Sumsel) tuan rumah, Papua Barat, Jambi, Padang (Sumatera-Barat), Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Kalimantan Barat, Papua, dan Sumatera Utara.

    “Mereka (Palito Nyalo) memang pantas menjadi yang terbaik dari beberapa kriteria penilaian dalam ajang ini,” ungkap Tulus Subarjono mewakili dewan juri lainnya di kesempatan itu.

    Usai diumumkannya keberhasilan Palito Nyalo tersebut, sejak itu pula menjadi malam kegembiraan dan kabar gembira bagi warga Sumatera Barat dan Kota Padang khususnya. “Alhamdulillah, Allah Swt telah mewujudkan doa kita bersama,” ucap Kepala Dinas Kominfo Suardi didampingi Sekretarisnya Tarmizi Ismail dan Kepala Bidang Komunikasi Statistik dan Persandian Swesti Fanloni.

    Swesti Fanloni pun menyampaikan rasa syukur Group Palito Nyalo telah menunjukkan kemampuan berakting di pentas nasional kali ini.

    “Prestasi ini hasil kerja keras dan kekompakan tim beserta dukungan semua pihak,” akunya.

    Seperti diketahui, tambahnya, Group Palito Nyalo merupakan bahagian Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di bawah naungan Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Kominfo.

    “Alhamdulillah, sesuai namanya Palito Nyalo yang artinya Pelita yang Menyala mampu menampilkan yang terbaik,” tukas Swesti.

    Sewaktu Palito Nyalo tampil Rabu (22/11) malam lalu, terlihat disupport langsung Walikota Padang H. Mahyeldi Ansharullah Dt Marajo bersama Ketua TP-PKK Kota Padang Ny Harneli Bahar. Juga hadir beberapa pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Antara lain Asisten II Hermen Peri, Asisten III Didi Aryadi, Kepala Dinas Kominfo Suardi, Kabag Humas Imral Fauzi, Kabag Kerjasama Erwin serta jajaran pimpinan dan staf Dinas Kominfo Padang.

    “Mari kita dukung dan doakan bersama, semoga Palito Nyalo jadi yang terbaik dalam ajang ini. Demi mengharumkan Kota Padang, Sumatera Barat di pentas nasional ,” harap Mahyeldi di kesempatan itu.

    Cerita ‘Rantau Malin’ oleh Group Palito Nyalo.

    Group Palito Nyalo yang tampil membawakan cerita ‘Rantau Malin’ Rabu (22/11) malam itu tampil begitu apik dan memukau. Dewan Juri serta puluhan pasang mata hadirin yang memadati lokasi lomba pun seakan terhipnotis dari berbagai aksi para seniman handal tersebut.

    Lihat saja dimulai dari awal memasuki arena pentas, gerak gerik tari yang diiringi alunan musik tradisional serta dialog tutur bahasa yang mudah difahami itu pun menandakan kematangan persiapan. Sebagaimana cerita yang diperankan Ilno Jackeny Revega Ammara sebagai Malin itu cukup menyedihkan. Yaitu perjalanan hidupnya yang berasal dari sebuah perkampungan nelayan di bumi Ranah Minang.

    Malin hanya tinggal bersama ibunya. Kesusahan yang selalu menyelimuti kehidupannyalah yang mendatangkan pemikiran baru untuk pergi merantau demi merobah taraf perekonomian kelak. Malin pun minta izin pergi merantau, namun ibu atau ‘mandehnya’ itu kurang setuju. Mungkin dikarenakan Malin anak satu-satunya serta segala-galanya bagi perempuan paruh baya tersebut.

    Akan tetapi, di tengah kebimbangannya itu datanglah sang Mamak (saudara kandung dari Ibu) yang lalu memberikan pemahaman pada sang Ibu. “Mari kita biarkan Malin marantau dulu. Sesuai pepatah Minang, Karatau madang di ulu Babuah babungo balun, Ka rantau bujang daulu Di kampuang baguno balun (Keratau madang di hulu, Berbuah berbunga belum, Merantau Bujang dahulu Di kampung berguna belum). "Merantau adalah proses perjalanan kecil yakni hijrah dari tiada mencari ada,” jelas sang Mamak.

    Malin pun akhirnya direlakan sang Ibu untuk merantau. Dan Mamak pun memesankan pada Malin semoga elok-elok di Rantau, jadi orang baik dan jangan lupa beribadah. Singkat cerita Malin pun meninggalkan keluarga, kampung tercinta dan telah berada dirantau.

    Dalam perjalanannya berbagai tantangan pun dilalui Malin, kehidupan perih dialaminya sehingga teringat ibunya di kampung. Namun berkat kesabaran, keyakinan dan doa yang selalu dipanjatkannya kepada Allah Swt, suatu ketika dalam kesusahan akhirnya Malin bertemu dengan saudagar kaya yang diketahui memiliki banyak kapal besar.

    Malin lalu dibina, diajak bekerja sehingga akhirnya dipercaya menjadi nakhoda kapal yang ia punyai. Seiring berjalannya waktu dari tahun ke tahun Malin pun menjadi kaya raya. Sehingga setelah sekian lama di rantau, terlintaslah di fikiran Malin untuk berniat pulang ke kampung halaman. Malin memasang niatnya itu melalui status yang di upload melalu media sosial facebook, WA, twitter dan instagram. Yang pada akhirnya diketahui teman-teman, sahabat dan orang-orang dikampungnya.

    Hal itu pun menyebabkan orang-orang di kampung menjadi heboh. Tak pelak sebagian mereka seakan tak mempercayai bahwa Malin akan pulang ke kampung dengan membawa hasil kesuksesannya di perantauan. Namun ternyata benar, Malin akhirnya tiba di kampung sebagai seorang yang kaya raya. Ia yang berdiri gagah itu disambut langsung sang Ibu serta teman-teman dan orang kampung lainnya.

    Namun kesuksesan yang diraih Malin tidak menjadikannya sombong dan angkuh di hadapan ‘Rang Kampuang’. Malin pun berkeinginan mensejahterakan kehidupan orang tuanya dan juga bertekad membangun kampung halaman.

    Alhasil, berbagai fasilitas pun dibangunnya, termasuk usaha keluarga dan hal-hal yang dapat menggerakkan perekonomian masyarakat kampung. Di akhir cerita suatu ketika Malin pun bertemu dengan seorang perempuan yang disukainya. Sehingga tak lama berkenalan mereka pun akhirnya melangsungkan pernikahan yang disambut secara meriah warga kampung.

    Demikianlah cerita Rantau Malin yang dibawakan oleh Group Palito Nyalo.(David / Wan)

    Adapun Pemeran dalam Cerita 'Rantau Malin' sebagai berikut :

    - Ilno Jackeny Revega Ammara berperan sebagai Malin

    - Dede Putri Perdani sebagai Mandeh

    - Saparman sebagai Mamak

    - Zalmasri sebagai Sutradara / Penata Laku

    - Dasrul sebagai Pemimpin Group

    Untuk dokumentasi dapat dilihat disini.