BI Sumbar : Waspadai Tren Inflasi Jelang Ramadan

BI Sumbar : Waspadai Tren Inflasi Jelang Ramadan

ilustrasi(net)

  • 04 4 2018
  • Huda Putra Erditama
  • 28 Kali Dilihat
  • ilustrasi (net)

    Padang, Diskominfo— Bank Indonesia Perwakilan Sumatra Barat mengingatkan pemerintah daerah agar waspada dengan laju inflasi yang terjadi saat ini. Setelah menyumbang deflasi pada Februari 2018 dengan angka 0,10 persen (bulan ke bulan), laju Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumbar tercatat 0,31 persen (bulan ke bulan). Sementara secara tahunan, inflasi Maret 2018 di Sumbar tercatat 2,33 persen (yoy) atau naik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,03 persen (yoy). 

    Bank Indonesia mencatat dua kota sampling inflasi yakni Padang dan Bukittinggi mengalami inflasi bulanan dengan laju masing-masing sebesar 0,31 persen (mtm) dan 0,28 persen (mtm).

    Kepala BI Perwakilan Sumatra Barat, Endy Dwi Tjahjono menyebutkan, tren inflasi di Padang patut diwaspadai. Ia memandang risiko laju inflasi yang merangkak naik semakin membayangi pada April 2018 ini, menyusul permintaan masyarakat yang terus meningkat menjelang Bulan Ramadhan dan Lebaran. Tak hanya itu, imbas dari penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite pada Maret 2018, diperkirakan masih terasa hingga April. 

    Di sisi harga pangan yang bergejolak, volatile food, penurunan produksi bisa saja terjadi seiring dengan curah hujan yang cukup tinggi. BI memandang bahwa hal ini menyumbang risiko gagal panen dan mengganggu kelancaran distribusi bahan pangan strategis.

    "Selain dari sisi supply, risiko yang patut diwaspadai adalah meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadhan dan faktor lain seperti ekspektasi masyarakat," jelas Endy, Rabu (3/4). 

    Sementara itu Kepala BPS Perwakilan Sumbar Sukardi menjelaskan, inflasi Maret 2018 di Padang lebih didominasi oleh kelompok bahan makanan sebesar 0,36 persen, kelompok makanan jadi, minuman, dan rokok sebesar 0,80 persen, dan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar sebesar 0,1 persen. Kondisi yang nyaris mirip juga terjadi di Bukittinggi, dengan kelompok bahan makanan mendominasi dengan porsi inflasi 0,69 persen. 

    BPS mencatat, beberapa komoditas penyumbang inflasi tertinggi di Padang adalah mie dengan sumbangan inflasi 0,07 persen, cabai merah dengan sumbangan inflasi 0,06 persen, dan bensin 0,05 persen. Sementara di Bukittingi, cabai merah menduduki posisi pertama dengan sumbangan inflasi 0,1 persen, belut 0,04 persen, dan bensin dengan sumbangan inflasi 0,03 persen. Di kedua kota, baik Padang dan Bukittinggi, komoditas lain yang juga menyumbang laju inflasi adalah jengkol dengan sumbangan inflasinya 0,02 persen. Di Padang, harga jengkol naik 2,82 persen, sementara di Bukittinggi harganya naik 13,12 persen. 

    Sukardi memandang, tingkat inflasi yang masih bertengger di kisaran nol persen menunjukkan stabiliras harga komoditas pokok di Sumatra Barat. Hingga Maret 2018, tingkat inflasi tahun kalender di padang tercatat 0,65 persen dan 0,8 persen di Bukittinggi. Sementara laju inflasi tahun ke tahun (year on year) Di Padang tercatat sebesar 2,35 persen dan 2,17 persen di Bukittinggi. 

    "Inflasi bergejolak naik turun namun di kisaran nol artinya terjaga. Komoditas yang naik cabai merah, bensin. Lalu ada rokok putih, sayur mayur seperti jengkol, bayam," kata Sukardi.

    Selain inflasi, BPS juga mencatat sejumlah komoditas yang justru menyumbang deflasi. Beberapa komoditas yang tercatat menekan angka inflasi adalah gula pasir, bawang merah, beras, jeruk nipis, tomat sayur, dan kentang.(Mc/Ip/Put)